Sabtu, 19 Maret 2011

HUKUM BERIMAN KEPADA MALAIKAT ADALAH FARDHU AIN

Sidang pembaca yang budiman, alhamdulillah jumpa lagi kita dengan dakwah saya (lewat tulisan) kali ini sesuai judul artikel religius tersebut diatas. Semoga tulisan ini dapat menjadi sebagai angin segar yang menyejukkan setiap qalbu – qalbu kita (pembaca) yang cinta kepada bacaan bernafaskan Islam. Iman kepada Malaikat termasuk rukun iman yang kedua. Malaikat merupakan makhluk Allah yang tidak dapat dilihat dengan panca indra (gaib). Sebagai umat Islam, kita wajib beriman kepadanya. Malaikat merupakan makhluk Allah yang selalu taat dalam menjalankan perintah-Nya dan dia tidak pernah membantah apa yang ditugaskan Allah kepadanya.
♦ Baiklah, kita simak apa itu pengertian iman kepada malaikat.
Kata Malaikat berasal dari bahasa Arab yaitu Malaikah yang merupakan kata jamak dari kata Malakum yang artinya risalah, misi atau utusan. Malaikat dan Rasul sama-sama utusan Allah. Menurut istilah, malaikat ialah makhluk Allah yang gaib yang selalu taat dan patuh melaksanakan tugas dan perintah Allah. Menurut macamnya, alam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1. Alam Syahadah atau alam nyata, yaitu tempat segala sesuatu yang dapat disaksikan dan diamati dengan indra, baik langsung (manusia, binatang, gunung dan lautan) maupun tidak langsung (sel, kuman dan virus) karena cara melihatnya dengan bantuan teleskop.
2. Alam Gaib, yaitu tempat makhluk Tuhan yang tidak dapat diamati dengan indra, baik langsung maupun tidak langsung, seperti roh manusia, malaikat, jin, iblis dan syetan. Adapun hal-hal yang gaib itu dapat diketahui dari dalil naqli, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an atau Sunah Rasul sehingga pengetahuan yang demikian dinamakan Sam’iyat.
• Perhatikan Firman Allah SWT :


”(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah : 3)

♦ Iman kepada Malaikat berarti percaya dengan sepenuh hati bahwa Malaikat itu betul-betul makhluk Allah SWT yang diciptakan dari nur atau cahaya. Mereka senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah-perintah Allah, tidak pernah membangkangnya.
♦ Sementara fungsi iman kepada Malaikat itu bahwa dengan mengetahui, memahami dan menghayati adanya Malaikat sebagai utusan Allah dengan tugasnya masing-masing sebagai penjaga, pemelihara, pelindung dan pengawas segala gerak gerik manusia di dunia, diharapkan pada diri manusia agar timbul kesadarannya untuk beriman, antara lain sebagai berikut :
1. Manusia lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menugaskan para Malaikat.
2. Manusia wajib bersyukur kepada Allah atas perhatian dan perlindungan-Nya dengan menugaskan para Malaikat untuk menjaga, membantu dan mendo’akan hamba – hamba-Nya.
3. Manusia berusaha untuk dapat berhubungan dengan Malaikat lewat jalan mensucikan jiwa, membersihkan hati dan meningkatkan ibadah kepada Allah sehingga akan beruntung apabila dido’akan oleh para malaikat.
4. Manusia berusaha selalu hati-hati dalam menjalani hidup di dunia ini, waspada dan selalu mawas diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Segala perbuatan manusia dipertanggung jawabkan di alam kubur dan akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir tentang siapa Tuhannya, apa Agamanya, siapa Nabinya dan siapa Imamnya.
5. Manusia berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemaksiatan serta senantiasa ingat kepada Allah sebab para Malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia. Segala perbuatan manusia dicatat oleh Malaikat Rakib dan Atid.
• Sesuai Firman Allah SWT :


”Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang (disisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan – pekerjaan itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar : 10-12)
♦ Kedudukan manusia dan malaikat adalah diterangkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah berasal dari turab atau tanah liat sehingga lahiriahnya dapat diamati dengan indra manusia, sedangkan malaikat tercipta dari unsur Nur atau Cahaya yang sifatnya gaib sehingga tidak dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indra manusia. Jin, Iblis dan Syetan termasuk makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah dari api.
• Perhatikan Sabda Rasulullah SAW berikut ini :

”Malaikat itu diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua.” (HR. Muslim)






Diantara makhluk-makhluk Allah, seperti Manusia, Malaikat, Jin, Iblis dan Syetan maka yang paling mulia adalah Manusia.
• Sesuai Firman Allah SWT :


”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ : 70)
Kelebihan manusia dari makhluk lain ialah manusia dikarunia akal dan nafas sehingga dapat menjadi motivasi dan semangat dalam menghambakan diri kepada Allah SWT. Manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tentunya manusia sendiri yang dapat menjaga dan memelihara diri dari yang dapat merendahkan martabatnya.
• Perhatikan Firman Allah SWT :


”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Neraka).” (QS. At-Tin : 4-5)
Tentu saja kedudukan manusia akan tetap mulia dan baik serta tidak akan ditempatkan pada tempat yang serendah-rendahnya apabila manusia itu beriman dan beramal shaleh. Karena balasan bagi manusia yang beriman dan beramal shaleh adalah Syorga (yaitu) tempat pahala yang tidak putus-putusnya. Hal inilah yang menjadikan manusia memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada malaikat dan makhluk lainnya.
• Sebagai kenyataan Allah SWT mengehendaki kemuliaan manusia sebagai berikut :
1. Manusia dijadikan Khalifah di muka bumi sesuai Firman-Nya :

”Dan ingatlah ketika Tuhan berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ....” (QS. Al-Baqarah : 30)
2. Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk sujuf (hormat) kepada Adam a.s.
1.
o Firman-Nya :

”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat : ”Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali iblis, yang enggan dan takabur dna adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 34)
3. Malaikat tidak dapat menjawab pertanyaan tentang nama-nama ilmu pengetahuan, sedangkan Adam dapat menjawabnya karena diberi ilmu dan diajarkan kepadanya.
4. Kepatuhan malaikat kepada Allah karena sudah tabiatnya dan malaikat tidak memiliki hawa nafsu, sedangkan manusia kepatuhannya kepada Allah melalui perjuangan yang berat karena harus melawan hawa nafsu dan goda’an syetan yang terkutuk.

Saudaraku, sidang pembaca tercinta, seperti dikatakan diatas bahwa Iman kepada Malaikat termasuk rukun iman yang kedua. Dengan pengertian Malaikat itu sebagai makhluk yang gaib dapatlah diketahui bahwa alam dapat dibedakan menjadi dua alam yaitu alam syahadah atau alam nyata dan alam gaib dan hukum beriman kepada Malaikat itu adalah fardhu ain. Sampai disini saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) jumpa lagi insya Allah kita pada tulisan yang lain tentu saja dengan judul dan materi dakwah yang berbeda. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Waafwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar