Minggu, 20 Maret 2011

MUNAFIK

MUNAFIK
Jul 9, '08 3:44 AM
for everyone
Munafik adalah yang mereka itu menampakan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Allah menjelaskan secara panjang lebar sifat yang bisa dimasukkan sebagai kemunafikan. Sangat banyak penyebutan yang berulang-ulangnya dari sifat kemunafikan ini dalam Al quran, seperti pada surah Al-Bara`ah dan surat al Munafiqun, dan juga disebutkan dalam surah An Nuur dan disurat-surat lainnya.
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa nifak itu artinya yaitu menampakan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Dan nifak itu terbagi dua :
1. Nifak keyakinan adalah nifak ini mengekalkan pelakunya di dalam neraka,
2. Nifak perbuatan adalah nifak ini termasuk dari dosa besar. Karena sesungguhnya orang munafik itu berselisih antara perkataan dan perbutannya. Dan sesungguhnya sifat-sifat kaum munafik ini terdapat pada surat-sutrat yang diturunkan di Madinah, karena di Mekkah tidak ada didalamnya itu kemunafikan dan bahkan perselisihan.
Dalam surah al Baqarah ini ada beberapa ayat yang menjelaskan kisah-kisah orang-orang munafik, diantaranya adalah sebagai berikut:
GOLONGAN ORANG-ORANG MUNAFIQ
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ 8 يُخَادِ عُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَ عُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ 9
Dan diantara manusia ada yang mengatakan "kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka bukan orang yang beriman (8) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman dan tidaklah mereka itu melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak menyadari (9).
Sababun Nuzul :
Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa empat ayat pertama dari surat al baqarah (2 - 5) membicarakan sifat-sifat kaum mu'minin, dan dua ayat berikutnya (6 -7) menceritakan tentang kaum kafirin yang menegaskan bahwa hati, pendengaran, dan penglihatan mereka tertutup - diperingatkan atau tidak diperingatkan mereka tidak akan beriman, dn tiga belas ayat selanjutnya (8 - 20) menegaskan cirri-ciri dan atau sifat dari kelakuan kaum munafiqin
Penjelasan
Diantara manusia ada yang menonjolkan kekafiran karena kebencian, padahal hati kecilnya beriman. Tatkala nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, disana terdapat kaum Anshor yang terdiri dari kabilah Aus dan Khazraj yang pada masa jahiliyah mereka menyembah berhala seperti yang dilakukan oleh kaum musyrik arab. Terdapat juga kaum yahudi dari kalangan Ahli Kitab yang masih mengikuti pola hidup para pendahulunya, dan mereka terdiri dari tiga kabilah : 1. Bani Qainuqa, yang merupakan sekutu kaum khazraj 2. Bani Nadhir, dan 3. Bani Quraizhah sekutu kaum Aus.
Ketika Rasulullah saw, tiba di Madinah, maka masuk Islamlah orang-orang tertentu dari kaum Anshar, baik dari kabilah khazraj dan Aus, namun sedikit sekali kamu yahudi yang masuk Islam. Diantara mereka yang masuk Islam adalah Abdullah bin Sallam ra. Pada saat itu belum ada kemunafikan sebab kaum mukmin belum mempunyai nyali yang ditakuti pihak lain, bahkan Nabi Muhammad saw berdamai dengan kaum yahudi dan dengan beberapa kabilah setempat yang ada diseputar Madinah.

Setelah terjadi peristiwa al-'Uzhma (hebat) dan Allah menampakan kalimah-Nya serta memuliakan Islam dan pemeluknya, maka masuk Islamlah Abdullah bin Ubai ibnu Salul, yang dahulunya sebagai penguasa Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Ia adalah pemimpin kabilah Aus dan khazraj pada masa jahiliyah dahulu mereka pernah akan menjadikannya sebagai raja mereka. Akan tetapi, datanglah kepada mereka kebaikan, lalu mereka masuk islam sehingga hasrat mereka terlupakan. Dalam diri Ubai tersimpan dendam terhadap islam dan pengikutnya. Setelah kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, Abdullah bi Ubai bi Salul berkata :"Ini adalah perkara yang unggul". Maka dia pura-pura masul islam bersama beberapa golongan yang mengikuti jejak dan pola hidupnya serta beberapa orang ahli kitab. Dari kejadian tersebut timbulllah kemunafikan pada penduduk Madinah dan yang ada di sekitarnya.
Jadi kaum munafik tersebut berasal dari kabilah Aus, Khazraj, dan Yahudi. Oleh karena itu, Allah mengingatkan supaya kaum mukminin tidak tertipu oleh penampilan yang akan menimbulkan kerusakan luas lantaran keyakinan keimanannya, sedang hakikatnya ialah dia kafir. Maka diantara yang diperingatkan adalah hendaknya kaum munafik dianggap secara pasti sebagai orang yang jahat, dan ini lebih baik.
Allah Ta'ala berfirman { وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ }, yakni dan sebagian manusia mereka berkata dengan lisan mereka kami beriman kepada Allah dan terhadap apa-apa yang yang diturunkan kepada Rasul-Nya dari ayat-ayat yang jelas seperti firmannya إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ , artinya apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata :"Kami mengakui bahwa kamu benar-benar Rasulullah. (Al-Munafiqun :1), yakni sesungguhnya tiada lain mereka berkata yang demikian itu hanya dibibir saja. Sebagaimana pada akhir ayat ini Allah mendustakan mereka seperti firmannya
: وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ, artinya Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta (akhir ayat surah al-munafiquun :1). {وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ }, yakni mereka juga beriman kepada hari berbangkit setelah kematian yang padanya itu ada pembalasan terhadap amal dan mereka iman terhadap hari kiamat karena sesungguhnya itu adalah hari akhir.
{ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ 8}, yakni dan tidaklah mereka itu dalam keimanan yang hakiki dan mereka tidaklah beriman, karena mereka berkata seperti itu tanpa didasari dengan keyakinan.
{ يُخَادِ عُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا}, yakni mereka menipu Allah dan mendustakannya dan mereka juga berani kepada Allah dan menyangka mereka telah berhasil menipu Allah dan orang-orang mukmin, { وَمَا يَخْدَ عُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ 9 }, dan tidaklah mereka menipu kecuali menipu diri mereka sendiri bahwasannya perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri dan mereka tidak menyadarinya.
Sumber : Tafsir At thobary, Ibnu Katsir, Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu Abbas
Wallahu'alam

HIKMAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Hari ini Jumat 26 Februari 2010 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1431 H. ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di bebarapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.

Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.

Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.

Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Kenyataan saat ini telah membuktikan, bahwa disebabkan belum bersungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam mengarungi perjuangan hidup, maka kehidupan kaum muslimin saat ini cenderung terperosok menjadi ummat terbelakang, dibandingkan dengan ummat-ummat lain di hampir semua bidang kehidupan.

Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).

Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.
Kebiasaan mengabaikan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita.

Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.

Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.

Imam Ibnu Atho’illah menyatakan : “Janganlah kamu membanggakan warid yang belum kamu ketahui buahnya. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan itu bukanlah hujan. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan adalah wujudnya buah-buah pepohonan”.

Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.
Buahnya adalah “Mutiara hikmah dan perubahan”. Perubahan menjadi lebih baik. Lebih utuh dan lebih bersungguh-sungguh dalam meneladani Rosulullah SAW dalam seluruh sisi kehidupan kita. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.

Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, " dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui." (Qs. At-Taubah: 103).

Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.

Wallaahu ‘a’lam bisshowaab.

Bangkitlah Pemuda Islam

Ditulis oleh Musfi Yendra, S.IP Kamis, 08 Januari 2009 19:05
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (Q.S. Al-Kahfi : 13). Dalam sejarah kebangkitan peradaban dunia pemuda (tentu juga pemudi) menjadi aspek kontibutif yang sangat penting. Hampir semua perubahan itu diusung oleh gerakan pemuda. Dengan kolaborasi potensi yang ada pada dirinya menjadi kekuatan yang terkalahkan. Semangat pantang menyerah plus arahan bijaksana oleh generasi tua.
Islam memberikan perhatian khusus terhadap pemuda. Sehingga target utama pembentukan perjuangan oleh Rasulullah adalah para pemuda. Mereka dibina oleh Rasulullah setiap hari di rumah Arqam bin Abi Arqam. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu keduanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillah (11), al Arqam bin Abi al Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Jafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shidiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat yang berusia 50 tahun.

Para sahabat tersebut menjadi garda terdepan tegaknya Islam dimuka bumi, mereka mesin politik dakwah. Hasil pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah pada fase syiriyatuddakwah dan jahriyatuddakwah waktu itu menggemparkan peradaban dunia. Segala macam tantangan dari kaum-kaum yang menentang berkembangnya Islam tidak sedikitpun menyurutkan langkah para pemuda-pemuda mulia tersebut. Peperangan dengan senjata (jihad qithal), ekspansi Islam terhadap wilayah-wilayah dunia, melakukan pendidikan terhadap umat (tarbiyah islamiyah) telah menjadi tugas utama assabiqunal awwalun.

Sungguh mereka telah menyimpan segudang kebanggaan dan kemuliaan, ilmu, kebudayaan, tatanan nilai dan prinsip. Mereka membina mental spiritual ummat, melenyapkan simbol-simbol paganisma serta menyemaikan benih-benih tauhid, keadilan, ukhuwah dan persamaan. Cucuran darah syuhada merupakan parfumnya. Tombak yang menancap di dada mereka adalah lambang kehormatan dan kemuliaan. Mereka mempertaruhkan nyawa demi membela agama.

Dalam sejarah berkembangnya Islam baik pada fase Nubuwwah bersama Rasul, kemudian fase khalifah urrasyidin dibawah empat khalifah, fase mulkan adhan kerajaan-kerajan Islam dan fase mulkan jabbariyan para penguasa menindas yang dikomandoi barat saat sekarang para pemuda Islam senantiasa tetap berjuang. Walaupun pada fase penguasa menindas ini banyak pemuda-pemuda yang keok tak berdaya karena kalah oleh perang pemikiran. Kita sadari perjuangan para sahabat-sahabat muda rasul yang penuh semangat telah memberikan hasil yang sangat luar biasa, hingga sampai pada generasi kita bisa hidup aman dan selamat dengan Islam.

Perubahan zaman pun tetap berjalan. Para generasi yang lahir dengan kharakteristik yang berbeda-beda satu sama lain. Trend yang berkembang dari seluruh aspek life style ternyata menjadi ancaman besar terhadap generasi muda Islam pada kehidupan akhir zaman ini. Gelombang degradasi moral menjadi momok yang menakutkan kalau tidak terselamatkan dengan cepat.

Syatilyn seorang orientalis dalam Buku Al ghraha alal `alaamil Islami dikutip oleh Muhammad Sayyid al Wakil mengatakan, “gelas dan artis mampu menghancurkan umat muhammad dari pada seribu meriam. Maka tenggelamkan umat Muhammad kedalam cinta materi dan shahwat”. Ideologi penggeraknya adalah Ideologi Zionosme yang didirikan oleh Theodore Herzl (Yahudi Austria) tahun 1897 menurut Shlomo Avineri dalam Buku The Making of Modren Zionism (Basic Books,1981) karena Herzl menguasai senjata terpenting yaitu, media massa, lobi dan public relation.

Penghancuran generasi muda Islam tidak lagi dengan siksaan-siksaan tetapi menggunakan buaian-buaian yang menghancurkan. Mereka sodori pemuda Islam dengan tontonan-tontonan cabul yang merusak akhlak. Mereka suguhi pemuda Islam dengan tontonanan sia-sia yang membuang-buang waktu para pemuda serta menjauhkan para pemuda dari agamanya. Hilanglah kebersihan orientasi, karena memperturutkan hawa nafsu. Hilanglah semangat mereka, karena menjadi generasi yang pemalas dan apatis.

Parahnya lagi realitas zaman telah menggerus karakter-karakter pemuda Islam dengan karakter-karakter pemuda paganis. Pemahaman ketauhidan mulai luntur dengan gerakan revolusi sekularian. Sehingga tidak sedikit pemuda Islam yang berafiliasi dalam gerbong pemikiran pembaharuan yang menyesatkan. Di lain sisi, ada juga kelompok-kelompok pemuda hipokrit yang seakan tenggelam dalam realitas modernisasi kehidupan. Mereka ber-euforia dengan kondisi yang ada, sehingga dalam diri mereka tidak ada sense of crisis yang mampu membangkitkan kesadaran moral mereka akan adanya kompleksitas permasalahan umat

Saatnya Bangkit

Kondisi yang semakin memprihatinkan ini menjadi cambuk besar terhadap pemuda Islam untuk tersadar, bangkit dan berjuang dari lingkaran setan kehidupan yang sia-sia. Sebagai pemuda Islam yang terlahir dengan kemuliaan, kita memiliki potensi yang sangat luar biasa. Pertama, pemuda memiliki keikhlasan, kemurnian orientasi perjuangan/ruhiyah. Kedua, pemuda memiliki semangat/hamasah. Ketiga, pemuda memiliki fisik yang kuat/jasadiyah. Keempat, pemuda memiliki intelektualitas /fikriyah. Semua potensi yang dimiliki semestinya diarahkan untuk perjuangan yang lebih untuk menjadi generasi Qur’ani pecinta Al Qur’an.

Menurut DR. Yusuf Qardhawi dalam buku Ash Shahwah Al Islamiyah Baina al Amal wa al Mahadzir (kebangkitan Islam antara harapan dan rintangan), beberapa aspek kebangkitan Islam kedepan yang harus di perjuangkan oleh terutama pemuda adalah; Pertama, kebangkitan pemikiran Kedua, kebangkitan perasaan dan emosi. Ketiga, kebangkitan amal dan perilaku. Keempat, kebangkitan peran wanita. Kelima, kebangkitan peran pemuda. Keenam, kebangkitan global.

Ada satu lagi fase terakhir yang akan dilewati sebelun kehidupan dunia ini berakhir, disebut dengan khilafah islamiyah manhaj nubuwwah. Islam akan menjadi peradaban terkahir dunia. Samuel Huntington dalam tesisnya yang berjudul “Benturan Antar Peradaban” menjelaskan bahwa Islam akan menjadi peradaban besar setelah kekuatan barat hancur. Kita pun sudah mulai melihat gejala-gejala kehancuran itu. Artinya saat ini kita sudah masuk fase transisi peradaban. Hitungan waktu akan terjadi suksesi peradaban itu. Disinilah diminta peran pemuda Islam berjuang menyongsong kebangkitan tersebut. Berkontribusi menjadi batu bata-batu bata yang akan menyusun peradaban yang didambakan ini. Ganjaran besar yang telah dijanjikan oleh Allah SWT adalah syurga dengan segala fasilitasnya. Yakinlah pada diri kita bahwa kita mampu menjadi pribadi-pribadi muslim yang tangguh dan berpengaruh. Wallahu’alam!

Bagaimana Membedakan Antara Perbedaan Mazhab dengan Aliran Sesat?

Assalamu'alaikum
Ustadz yang dirahmati Allah, ada gejala kebingungan dalam masyarakat antara perbedaan yang disebabkan oleh beda mazhab dengan beda karena aliran sesat. Bagaimana membedakan antara keduanya? Adakah ciri-ciri unutk membedakannya agar umat tidak salah kaprah?
Jazakallah.
Rizqi Maulida A
tjetjep_permana06@yahoo.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perbedaan pendapat karena masalah beda mazhab punya ciri yang sangat khusus. Mudah sekali membedakannya dengan penyelewenangan aliran sesat.
Aliran sesat itu dikatakan sesat karena memang sesat. Dan kesesatan itu umumnya berada pada wilayah aqidah dasar, bukan pada wilayah ibadah yang merupakan cabang yang tidak terlalu prinsipil.
Kalau kita lihat ada orang shalat dengan tangan di dada, atau jari telunjuknya bergoyang-goyang saat tahiyat, jelas sekali itu bukan penyelewengan aqidah, meski mungkin buat sebagian kita, cara shalat seperti itu aneh dipandang mata.
Tapi kalau sehabis kita shalat di suatu masjid, tiba-tiba bekas tempat kita shalat lantas dicuci tujuh kali salah satunya dengan air tujuh kali, ini merupakan ciri aliran sesat. Karena yang bekasnya dicuci tujuh kali adalah najis mughalladzhah. Lantas apakah diri kita ini dianggap nasjid babi dan anjing? Enak aja
Sepuluh Kriteria Aliran Sesat
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat
1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar'i
Memang 10 kriteria ini belum dijabarkan secara lebih detail, mungkin butuh waktu. Tetapi setidaknya kriteria ini sudah cukup membantu pada level yang paling dasar.
Namun untuk kepastian apakah sebuah aliran termasuk menyeleweng dan sesat atau tidak, lembaga seperti MUI inilah yang berwenang mengeluarkan fatwanya.
Sayangnya, fatwa MUI ini oleh negara masih dianggap tidak punya payung hukum yang kuat, sehingga fatwa tinggal fatwa, implementasi dalam bentuk nyata masih belum sepenuhnya dilakukan oleh aparat.
Kalau anda tertarik melihat daftar aliran apa saj yang sudah ditetapkan sesat oleh MUI, silahkan buka situs mereka http://www.mui.or.id
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
(Courtesy: http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/7c12174724-bagaimana-membedakan-antara-perbedaan-mazhab-dengan-aliran-sesat.htm)

TAUHID ULUHIYYAH, RUBUBIYAH DAN ASMA' SIFAT

Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah
amma ba'du...

Pembagian Tauhid sebenarnya lebih merupakan masalah methodologis
(cara)
dalang rangka memudahkan pemahaman bagi kaum awam. Maka di sana
kita menemukan bahwa para ulama Islam berbeda-beda dalam membagi
Tauhid, bahkan sebagian ulama ada yang kurang sependapat dengan
pembagian-pembagian Tauhid tersebut. Namun ada baiknya juga kita
mempelajari pembagian-pembagian Tauhid yang dibuat oleh
ulama-ulama Islam, dalam rangka memudahkan pemahaman kita
terhadap masalah yang cukup penting dalam agama kita ini, yaitu
Aqidah.

Para ulama ada yang membagi Tauhid menjadi tiga bagian, yaitu
Tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan Asma' Sifat. Sebagian lagi ada
yang membagi Tauhid menjadi dua, yaitu: Tauhid al-Itsbat wal
Ma'rifah (Tauhid Keyakinan dan Pengertian) dan Tauhid fil Thalab
wal Qasd (Tauhid Pengharapan dan Penghambaan).
Namun demikian sebenarnya pembagian-pembagian tersebut intinya tetap
kepada satu tujuan,
yaitu ajaran menyatukan Allah.

Tauhid Rububiyah

maksudnya Keyakinan hamba bahwa Allah adalah
satu-satunya Tuhan yang menciptakan seluruh ciptaan ini dengan
sendiri, dan pengakuan bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang
mengatur semua ciptaan ini, Yang memiliki alam semesta, Yang
menghidupkan seluruh kehidupan dan Yang mematikan seluruh
kematian.

Termasuk dalam Tauhid Rububiyah adalah iman dan Qadla'
dan Qadarnya. Maka Tauhid Rububiyah merupakan landasan awal dari
Tauhid-tauhid yang lain.

Tauhid Uluhiyah

adalah pengakuan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat
yang
berhak disembah. Pengakuan tersebut selanjutnya direalisasikan
dalam bentuk penyembahan, ibadah dan pengharapan dari setiap
do'a-do'anya. Sebagian ulama mendefinisikan Tauhid Uluhiyah
sebagai puncak rasa cinta dan keta'atan kepada Allah. Dengan
Tauhid Uluhiyah ini seorang hamba bisa disebut muslim, karena
telah melaksanakan perintah-perintah agama, yaitu ibadah. Maka
bisa dikatakan bahwa bentuk lahir dari Tauhid Uluhiyah adalah
menjalankan rukun-rukun Islam. Seorang hamba bisa saja telah
mencapai Tauhid Rububiyah, namun belum mencapai Tauhid Uluhiyah,
seperti seseorang yang telah mempercayai keberadaan Allah namun
belum mau menegakkan rukun-rukun Islam.

Tauhid Asma' Sifat.

yaitu kepercayaan bahwa Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna,
dengan mengakui dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah
yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an dan yang diceritakan
oleh Nabinya Muhammad s.a.w. Tauhid Asma' Sifat lebih merupakan
persepsi hamba terhadap Tuhannya dengan pengakuan bahwa Tuhannya
adalah yang Maha Sempurna. Iman kepada Asma'ul Husna adalah
termasuk dalam Tauhid ini.

Demikian, Semoga bermanfaat.

Wallahu A'lam bish-shawab

Surga Dan Neraka Sudah Tercipta Sejak Dahulu

Saudaraku, tahukah Anda bahwa sesungguhnya Surga dan Neraka telah tercipta sejak dahulu? Keduanya bukan ciptaan Allah yang baru ada setelah Kiamat kelak terjadi. Dalam kitabnya yang berjudul Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, Ath-Thahawi menulis sebagai berikut:
”Surga dan Neraka telah diciptakan Allah. Keberadaan keduanya tidak akan pernah berakhir. Allah menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan yang lain, dan Dia juga menciptakan penduduk untuk masing-masingnya. Siapa yang diinginkanNya, akan masuk ke dalam surga dengan ampunan dan pertolonganNya, dan siapa yang diinginkanNya akan masuk ke dalam neraka sesuai dengan keadilanNya. Setiap orang akan berperilaku sesuai dengan ketentuan yang telah diciptakan untuknya; perbuatan baik dan perbuatan jelek telah ditaqdirkan untuk semua orang.”

Dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedia Kiamat, Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar menyatakan bahwa statement Ath-Thahawi di atas mewakili aqidah ahlus-sunnah wal-jama’ah. Beliau selanjutnya menguatkan pandangan di atas dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits. Di antaranya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Ayat ini menegaskan bahwa surga telah Allah sediakan atau siapkan bagi kaum muttaqin (orang-orang bertaqwa) jauh-jauh hari sebelumnya, maka hendaknya orang-orang beriman berkompetisi untuk mendapat hak memasukinya. Demikian pula sebaliknya, berdasarkan ayat di bawah ini berarti Allah telah sediakan atau siapkan bagi kaum kafir api neraka yang karenanya hendaknya manusia tidak memilih jalan hidup orang kafir jika tidak ingin berakhir di tempat mengerikan itu.
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
”Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS Ali Imran ayat 131)

Di antara sabda Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang membenarkan pendapat bahwa surga dan neraka telah diciptakan Allah sejak awal ialah:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ
إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ
فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya bila salah seorang di antaramu meninggal, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya di waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk ahli surga, maka ia ahli surga. Dan jika termasuk ahli neraka, maka ia ahli neraka. Lalu dikatakan kepadanya: ”Inilah tempatmu sehingga Allah bangkitkan kamu pada hari Kiamat.” (HR Bukhary)

Hadits di atas menjelaskan bahwa begitu seorang manusia meninggal dunia kemudian dimasukkan liang lahat, maka setelah selesai proses interview oleh dua malaikat, maka selanjutnya ia akan diperlihatkan tempat tinggalnya kelak di akhirat. Jika ia calon penghuni surga, maka ia akan diperlihatkan surga tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya. Sebaliknya, jika ia termasuk calon penghuni neraka maka ia akan diperlihatkan neraka tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya. Hal ini akan berlangsung terus di alam kubur atau alam barzakh hingga tibanya hari Kiamat, dimana ia tidak lagi sekedar menyaksikan tempat tinggalnya di akhirat namun ia bahkan bakal memasukinya. Sehingga di dalam hadits lainnya, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menyebutkan doa yang diucapkan seorang beriman selama di dalam kuburnya saat ia berhak melihat tempatnya di surga yaitu:
رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
“Ya Rabb, datangkanlah hari Kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.”(HR Ahmad)

Si mu’min tidak sabar menanti datangnya hari Kiamat. Sebaliknya, ucapan seorang kafir atau munafik selama di dalam kuburnya saat ia melihat neraka sebagai calon tempat tinggalnya di akhirat kelak nanti ialah:
رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ
“Ya Rabb, janganlah Engkau datangkan hari Kiamat.” (HR Ahmad)

Dalam hadits lainnya diriwayatkan bahwa ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diperjalanankan pada malam Isra’ dan Mi’raj, maka beliau diizinkan Allah melihat surga. Hal ini juga menegaskan bahwa surga sesungguhnya sudah ada sejak dahulu.
ثُمَّ انْطَلَقَ بِي حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ
فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ
“Kemudian Jibril mengantar aku ke Sidratul Muntaha, yang diliputi oleh warna-warna yang sulit dilukiskan keindahannya. Kemudian aku masuk ke dalam surga, yang cahayanya seperti cahaya mutiara dan tanahnya seperti kesturi.” (HR Bukhary)

Bahkan ada lagi suatu hadits panjang yang menggambarkan bahwa surga dan neraka telah Allah ciptakan dahulu dan bahwa Allah telah menyuruh Malaikat Jibril untuk melihat dan memberikan penilaian terhadap keduanya. Kemudian Allah melapisi masing-masing surga dan neraka dengan lapisan yang bisa menyebabkan manusia tertipu akan hakikat keduanya. Dan pelapis itulah –wallahu a’lam- alam fana dunia yang sedang kita jalani saat ini. Dunia yang fana ini memang sangat kaya dengan tipuan mata bagi manusia.
لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا
فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ
لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ
ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ
فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ
لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ
قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ
فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ
أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا
فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ
فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ
أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا
“Ketika Allah menciptakan surga Dia berfirman kepada Jibril: ”Pergi dan lihatlah surga.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, tidak seorangpun yang mendengar perihal surga melainkan pasti ingin memasukinya.” Kemudian Allah lapisi surga dengan al-makaarih (hal-hal yang tidak disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah surga.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak seorangpun bakal ingin memasukinya.” Ketika Allah menciptakan neraka Dia berfirman kepada Jibril: ”Pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, tidak seorangpun yang mendengar perihal neraka bakal mau memasukinya.” Kemudian Allah lapisi neraka dengan asy-syahawaat (hal-hal yang disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak akan ada orang yang bakal lolos dari api neraka.” (HR Abu Dawud)

Ya Allah, sungguh kami memohon ridha dan surgaMu, dan sungguh kami berlindung kepada Engkau dari murka dan nerakaMu. Amin ya Rabb.-

Sabtu, 19 Maret 2011

Iman Kepada Qodho Dan Qodar

Oleh amrsmedaka
Nabi bersabda :”Ketahuilah seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditaqdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkamu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta”. Di dalam hadits Rasulullah inilah terdapat penjelasan tentang Qodho’ dan Qodar, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengimaninya. Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya berupa kebaikan dan kejelekan dengan terperinci dan ilmunya tidak didahului oleh ketidak-tahuan. Dan Allah maha mengetahui apa yang menimpa seorang hamba dari kebaikan (atau musibah) dan dia telah menuliskannya di lauhul mahfudz. Nabi bersabda :”Sesungguhnya Allah menuliskan takdir semua makhluk ini sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda :”Sesungguhnya makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah al-Qolam lalu Allah mengatakan kepadanya : Tulislah (takdir semua makhluk ini -pent), maka sejak itupun berjalan takdir Allah hingga hari kiamat” (HR. Ahmad 5/317 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Syarh Aqidah Thohawiyah hal. 294)
Seorang hamba tidak akan ditimpa oleh sesuatu pun dari kebaikan dan musibah melainkan yang telah Allah takdirkan baginya. Barangsiapa yang akan Allah beri kebaikan maka tidak ada seorang pun dari penghuni langit dan bumi yang bisa menghalangi kebaikan tersebut, meskipun mereka bersatu-padu. Hal ini telah Allah jelaskan dalam al-Qur’an, “Katakanlah : tidak ada yang menimpa kami melainkan yang telah Allah tuliskan untuk kami” (QS. At-Taubah : 51).
“Dan tatkala mereka masuk menurut yg diperintahkan ayah mereka, maka (cara yg mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. (QS.Yusuf : 68)
“Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdir kan dia termasuk orang-orang yg tertinggal (dibinasakan)”. (QS.An Naml : 57)
“Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini ?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata : “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah :”Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yg ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yg ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (Qs.Ali Imron : 154)
TENTANG QADHA’ DAN QADHAR
“Apakah di antara Qadha’ dan Qadar terdapat umum & khusus ?”
Istilah Qadha’ bila dimutlakkan, maka memuat makna Qadar dan sebaliknya istilah Qadar bila dimutlakkan, maka memuat makna Qadha’, Akan tetapi bila dikatakan “Qadha-Qadar”, maka ada perbedaan di antara keduanya. Hal ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. Satu kata dapat bermakna yang luas ketika sendirian dan punya makna khusus bila disatukan (dikumpulkan). Sebagai contoh dapat dikatakan. “Bila keduanya bersatu maka berbeda dan bila ke duanya dipisah maka bersatu”. Maka kata Qadha’ dan Qadar termasuk dalam kondisi seperti ini, artinya bila kata Qadha’ dipisahkan (dari kata Qadar), maka memuat Qadar dan sebaliknya kata Qadar bila dipisahkan (dari kata Qadha’) maka memuat makna Qadha’. Akan tetapi ketika dikumpulkan, kata Qadha’ bermakna sesuatu yang ditetapkan Allah pada mahluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan maupun perubahannya. Sedangkan Qadar bermakna sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Inilah perbedaan antara kedua istilah tersebut. Maka Qadar ada lebih dahulu kemudian disusul dengan Qadha’.